Dosakah yang dia kerjakan..
Sucikah mereka yang datang..
Saya mengenang kalimat itu, sebuah sajak lagu dari Titiek Puspa, Kupu-Kupu Malam. Tapi ia hanya sebuah sajak, hanya dilantunkan dengan iringan musik dan orang menikmatinya. Tentu, menikmati cengkok lembut penyanyi, tapi mencampakkan makna lagu itu.
Ini adalah sebuah manifestasi pengarang yang, secara tidak langsung menusuk khalayak. Kata “dosa” yang ditujukan kepada “kupu malam” dibuatnya menjadi pertanyaan. Pun sama halnya dengan kata “suci” yang ditujukan kepada “yang datang”. Pertanyaan tentang sebuah kebenaran yang absah; Adakah dosa itu? Adakah suci itu?
Orang lupa bahwa ternyata paradoks sangat lekat kaitannya dengan kehidupan ini. Apa yang menurut khalayak adalah salah, ternyata belum tentu bagi sebagian orang adalah salah. Manusia selalu ingin menggolongkan, menyisihkan, mempertautkan, agar apa yang ada di masyarakat bisa dengan mudah untuk dinilai.
Tetapi, seberapapun kuat usaha manusia melakukan itu, pada akhirnya mengalami kerancuan yang tiba-tiba saja menyentak. Boleh jadi seseorang digolongkan lebih dari satu identitas, dan dari identitas yang berbeda itu ternyata saling bertolak belakang.
Singkatnya, manusia tidak mudah untuk digolongkan. Tapi terkadang kita lalai dengan hal yang seperti ini. Kita bisa saja dengan mudah menilai seseorang dan menggolongkannya pada golongan tertentu. Kemudian dengan mudah menebak identitas.
Hal ini sudah terjadi sejak lama pada kehidupan feodalisme dan kehidupan perkastaan. Maka yang terjadi adalah kesewenang-wenangan, nilai kemanusiaan terlupakan. Orang dilihat tinggi rendahnya derajat hanya karena sebuah penggolongan; si jelata lebih rendah derajatnya ketimbang si bangsawan atau si Paria lebih rendah dari Brahmana.
Kita bisa renungkan bagaimana manusia harus menyembah kepada sesama manusia, merangkak di hadapan sesamanya. Yang jelata menggigil mengatakan sesuatu, sedang yang diajak bicara hanya mengucap beberapa kata saja atau hanya mengangguk dan menggelengkan kepala.
Bila dipertautkan antara kehidupan wanita malam dengan kehidupan bangsawan, bukan tidak mungkin terjadi persamaan. Bukankah budaya pergundikan dan perseliran sama halnya dengan pelacuran? Namun kenapa hal tersebut dianggap sah?
Tapi kehidupan ini tidak sempit, banyak sekali kejadian seperti ini terjadi pada masyarakat kita. Bahkan, dalam masyarakat yang menggolongkan dirinya sebagai masyarakat yang beragama, ternyata sangat bertolak belakang dengan perbuatannya.
Padahal, manusia yang lebih tinggi derajatnya adalah manusia yang mengerti benar tentang kemanusian. Bukan legitimasi masyarakat tentang kedudukan, atau tentang kasta yang ada di kehidupan sosial.
Maka saya pun ikut merenung bersama Kupu-kupu malam.
osakah ia?
Sucikah mereka?
[..]
Senin, 27 Desember 2010
Jumat, 24 Desember 2010
Di Seberang Kali Bekasi
Malam kian pekat, dingin menusuk-nusuk tulang belulang yang kian merapuh. Yang masih hidup akan segera tumbang dan yang sudah tumbang akan segera lapuk. Tulang belulang berserakan, kata Chairil dalam sajaknya. Tapi mereka manusia terjajah, tak bisa membaca apalagi memahami sebuah prosa. Mereka hanya mendengar dari mulut ke mulut atau menyaksikan sendiri tragedi ini. Ah, Rawagede! Siapa pula akan mengenang, kampung di seberang kali sana.
Kali Bekasi menjadi tapal batas kengerian hidup, hidup yang sudah mengerikan dan tambah pula menghibakan. Kita yang di sini adalah penghianat, begitulah orang di seberang sana mencaci. Tapi kita bukan penghianat, yang penghianat adalah mereka yang menjual revolusi, mereka yang ingin mengenakan pakaian dan makan. Tapi yang di seberang sana juga manusia, butuh pakaian juga makanan. Tidak, tidak. Kita bukan penghianat.
Kita dulu adalah orang-orang yang di seberang sana, di pangkal perjuangan Indonesia. Kita adalah yang terhuyung-huyung terkena peluru panas, tersengat panasnya meriam yang setiap waktu mengancam kampung di seberang sana. Malam menjadi siang dan siang menjadi malam. Siang untuk melepas lelah malam untuk bekerja. Bekerja untuk revolusi, untuk tanah air tercinta ini.
Tidak, tidak. Aku masih ingat, kita tak pernah bisa melepas lelah apalagi tidur. Kita bekerja, siang untuk mengguris makan, malam untuk menjaga nyawa. Bayi-bayi dibungkam untuk tidak menangis walaupun perut si bayi lapar. Tapi kita orang yang sembunyi dalam rumah sendiri, orang yang akan di usir dari kampungnya sendiri.
Hari demi hari hidup dililit ketakutan, hidup dalam rimbanya penjajahan tanpa kemanusiaan. Tapi waktu memang membuat lelah seperti mereka yang akhirnya lelah pada ketakutanya sendiri. Apa gunanya pula takut pada kematian bila akhirnya yang takut pun akan mati. Yang berani pun akhirnya mati. Maka ketakutan bukanlah pelindung dari kematian, ketakutan tak mengubah kekejaman.
Mereka yang di seberang kali sana bertelanjang dada. Para pemuda yang masih benar-benar muda dipaksa untuk berjuang. Bukan orang yang memaksa, tapi keadaanlah yang mengubah mereka manjadi cepat masak tambah melesak. Itulah masa ketika yang muda dituakan dan yang tua dimudakan. Semua, semua harus ikut berjuang. Yang sudah tidak bisa lagi dituakan atau dimudakan, mereka pun berjuang untuk menolong dan membohongi kontrolir keji itu.
Jakarta telah jatuh, tapi yang di seberang sana belum juga jatuh. Dan jika di seberang sana jatuh, maka yang di belakangnya pun ikut jatuh, semua akan jatuh. Mereka itulah pangkal perjuangan, maka merekalah yang akan diserang terlebih dahulu biar bisa menguasai semua-mua tanah air kita. Mereka masih haus darah setelah menumpas tentara Jepang di kali Bekasi. Air menjadi darah yang mengalirkan mayat-mayat tentara Jepang yang masih kepengin hidup. Tidak ada ampun. Penjajah harus angkat kaki.
Tapi si Kulit Putih makin terang saja nampaknya, makin kelihatan pula serakahnya. Mereka tak mau diam, yang diam maka berarti mati dan yang mati akan diam terus. Jadi mereka tidak diam, karena diam adalah kematian. Semua, semua tidak diam. Semua akan ikut berjuang.
Mereka yang belum juga masak dan sudah begitu renta akhirnya harus menghadapi kekejaman. Mereka dibariskan di pelataran, kemudian mereka di periksa, dimaki, diperlakukan bukan sebagai manusia. Senapan dilepaskan, meriam digulirkan. Meledak! Ya, meledak. Orang-orang itu ikut meledak dan tergeletak di tanah. Tapi mereka terhormat, mereka roboh di pangkal perjuangan bangsa ini.
Lantas siapa pula kita ini yang telah berdiri di seberang kematian mereka? Kita pun ikut berkabung, untuk mereka yang kini telah hidup di dunia tanpa penjajahan. [..]
Kali Bekasi menjadi tapal batas kengerian hidup, hidup yang sudah mengerikan dan tambah pula menghibakan. Kita yang di sini adalah penghianat, begitulah orang di seberang sana mencaci. Tapi kita bukan penghianat, yang penghianat adalah mereka yang menjual revolusi, mereka yang ingin mengenakan pakaian dan makan. Tapi yang di seberang sana juga manusia, butuh pakaian juga makanan. Tidak, tidak. Kita bukan penghianat.
Kita dulu adalah orang-orang yang di seberang sana, di pangkal perjuangan Indonesia. Kita adalah yang terhuyung-huyung terkena peluru panas, tersengat panasnya meriam yang setiap waktu mengancam kampung di seberang sana. Malam menjadi siang dan siang menjadi malam. Siang untuk melepas lelah malam untuk bekerja. Bekerja untuk revolusi, untuk tanah air tercinta ini.
Tidak, tidak. Aku masih ingat, kita tak pernah bisa melepas lelah apalagi tidur. Kita bekerja, siang untuk mengguris makan, malam untuk menjaga nyawa. Bayi-bayi dibungkam untuk tidak menangis walaupun perut si bayi lapar. Tapi kita orang yang sembunyi dalam rumah sendiri, orang yang akan di usir dari kampungnya sendiri.
Hari demi hari hidup dililit ketakutan, hidup dalam rimbanya penjajahan tanpa kemanusiaan. Tapi waktu memang membuat lelah seperti mereka yang akhirnya lelah pada ketakutanya sendiri. Apa gunanya pula takut pada kematian bila akhirnya yang takut pun akan mati. Yang berani pun akhirnya mati. Maka ketakutan bukanlah pelindung dari kematian, ketakutan tak mengubah kekejaman.
Mereka yang di seberang kali sana bertelanjang dada. Para pemuda yang masih benar-benar muda dipaksa untuk berjuang. Bukan orang yang memaksa, tapi keadaanlah yang mengubah mereka manjadi cepat masak tambah melesak. Itulah masa ketika yang muda dituakan dan yang tua dimudakan. Semua, semua harus ikut berjuang. Yang sudah tidak bisa lagi dituakan atau dimudakan, mereka pun berjuang untuk menolong dan membohongi kontrolir keji itu.
Jakarta telah jatuh, tapi yang di seberang sana belum juga jatuh. Dan jika di seberang sana jatuh, maka yang di belakangnya pun ikut jatuh, semua akan jatuh. Mereka itulah pangkal perjuangan, maka merekalah yang akan diserang terlebih dahulu biar bisa menguasai semua-mua tanah air kita. Mereka masih haus darah setelah menumpas tentara Jepang di kali Bekasi. Air menjadi darah yang mengalirkan mayat-mayat tentara Jepang yang masih kepengin hidup. Tidak ada ampun. Penjajah harus angkat kaki.
Tapi si Kulit Putih makin terang saja nampaknya, makin kelihatan pula serakahnya. Mereka tak mau diam, yang diam maka berarti mati dan yang mati akan diam terus. Jadi mereka tidak diam, karena diam adalah kematian. Semua, semua tidak diam. Semua akan ikut berjuang.
Mereka yang belum juga masak dan sudah begitu renta akhirnya harus menghadapi kekejaman. Mereka dibariskan di pelataran, kemudian mereka di periksa, dimaki, diperlakukan bukan sebagai manusia. Senapan dilepaskan, meriam digulirkan. Meledak! Ya, meledak. Orang-orang itu ikut meledak dan tergeletak di tanah. Tapi mereka terhormat, mereka roboh di pangkal perjuangan bangsa ini.
Lantas siapa pula kita ini yang telah berdiri di seberang kematian mereka? Kita pun ikut berkabung, untuk mereka yang kini telah hidup di dunia tanpa penjajahan. [..]
Label:
CORETAN
Selasa, 21 Desember 2010
Ada
Aku berpikir maka kau ada
Aku hanya mengenalmu dari pikiranku
Semua, semua kuketahui kau
Dari hasil olah otakku..
Aku akan bermimpi, terus bermimpi
Jika aku tak berpikir tentangmu, maka kau lenyap
Ya, kau akan remuk dalam peredaranku
Kau ada karena aku berpikir tentangmu..
Lalu kau berbisik padaku;
“Bukan pikiranmu yang menentukan aku”.
Kau pun mengusap tanganku dan berkata;
“Aku dan kau itu nyata, bukan mimpi”..
[..]
Aku hanya mengenalmu dari pikiranku
Semua, semua kuketahui kau
Dari hasil olah otakku..
Aku akan bermimpi, terus bermimpi
Jika aku tak berpikir tentangmu, maka kau lenyap
Ya, kau akan remuk dalam peredaranku
Kau ada karena aku berpikir tentangmu..
Lalu kau berbisik padaku;
“Bukan pikiranmu yang menentukan aku”.
Kau pun mengusap tanganku dan berkata;
“Aku dan kau itu nyata, bukan mimpi”..
[..]
Label:
PUISI
Senin, 20 Desember 2010
Angan
kau adalah pikiranku
kubangunkan kau dalam anganku
kutumpuk serpihan-serpihan wajahmu
kau tumbuh dalam imajinasiku..
tapi itu masa lalu
kemudian kau muncul menjadi nyata
kau menghilang lagi
aku mengenalmu di antara mimpi dan kenyataan..
ketika serpihan bayang terkumpul menjadi kenyataan
engkau runtuh kembali tanpa bentuk
kemudian kubangunkan lagi kau dalam anganku
ah, kali ini aku tak berhasil..
kau remuk.... [..]
kubangunkan kau dalam anganku
kutumpuk serpihan-serpihan wajahmu
kau tumbuh dalam imajinasiku..
tapi itu masa lalu
kemudian kau muncul menjadi nyata
kau menghilang lagi
aku mengenalmu di antara mimpi dan kenyataan..
ketika serpihan bayang terkumpul menjadi kenyataan
engkau runtuh kembali tanpa bentuk
kemudian kubangunkan lagi kau dalam anganku
ah, kali ini aku tak berhasil..
kau remuk.... [..]
Label:
PUISI
Kamis, 16 Desember 2010
Romusha Banten Bersama Tan Malaka
Saya bisa bayangkan, pena merayap di atas kertas, di bawah sayap pesawat Jepang yang setiap hari mendengungkan kecerobohannya di atas sebuah gubuk.Ia tulis sebuah kitab yang mengagumkan, setelah 20 tahun lebih mengembara di negeri orang. Madilog, begitulah ia menamakannya. Sejak tahun 1942 ia menghimpun ingatannya tentang ihwal yang telah ia pelajari di negeri nun jauh di sana.
Ia dalam gelisah. Setiap kali gesekan sepatu terdengar, ia sembunyikan kitabnya itu di tempat yang tidak menarik perhatian. Sesaat kemudian, seorang polisi Jepang memporak-porandakan seisi rumah. Ia memang pintar dan berpengalaman; berpengalaman menjadi bulan-bulanan. Ia menghembuskan nafasnya dengan lepas mengenang kepergian polisi itu.
Saya bisa merasakan betapa sulitnya hidup ketika uang telah menipis. Apalagi dalam beberapa bulan tidak bekerja, sedang perut tak pernah kenal kompromi. Itulah yang ia rasakan, tercekik dalam hidup yang pelik. Ia lamar pekerjaan di Tambang Arang Bayah pada pertengahan 1943. Ia diterima bukan sebagai romusha, melainkan seorang juru tulis dengan nama samaran Ilyas Hussein. Madilog ikut berlindung dengannya.
Namun saya rasa ia tidak hanya mencari nafkah dan berlindung dari kejaran polisi. Kita tahu, Banten adalah pusat berkumpulnya romusha dari berbagai daerah di Jawa. Ada tindakan eksploitasi manusia yang mengerikan di dalamnya. Ia menelisik, menusuk dalam kehidupan kaum proletar itu. Akhirnya ia bisa saksikan, ketika manusia menjadi seperti tulang-belulang yang rapuh.
Kerap kali kakinya ia langkahkan ke tempat yang menyeramkan, masuk ke pelosok menyaksikan kehidupan yang sangsi. Wabah mengganas di tempat yang ia kunjungi, segala penyakit menjangkit hebat. Tentara Jepang takut mengunjungi daerah kecil itu, mereka lebih takut dengan penyakit ketimbang panasnya api senapan. Akhirnya ia tahu, kelaparan adalah penyebab utama kematian para romusha di Pulo Manuk—nama tempat itu.
“Kita dapat mempraktekkan rasa tanggungjawab terhadap golongan bangsa Indonesia yang menjadi korban militerisme Jepang.” Ucapnya suatu ketika. Ia masuki lorong-lorong para romusha, memberikan nasihat akan pentingnya kesehatan. Ketika ia ditugaskan untuk mendata pekerja, ia menemukan bahwa dalam setiap bulan 300-400 mati kelaparan. Ia dikenal sebagai kerani yang baik hati.
Saya bayangkan dengan hati yang miris. Pekerja hanya diberi beras 250 perhari dan 40 sen yang hanya bisa untuk membeli satu buah pisang. Tentu kelaparan tak bisa dielakkan lagi, menjadi semakin ganas menggerogoti jiwa-jiwa yang terampas. Romusha menjadi hamba negeri-negeri asing yang datang sebagai dewa maut. Semakin jelas, rakyat menjadi budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain.
Ia tidak diam, ia merasakan dan melaksanakan. Para pemuda ia himpun untuk mendirikan dapur umum yang menyediakan makanan untuk seribu romusha. Mereka bangun rumah sakit di sekitar pinggiran Bayah, juga membuka kebun sayur dan buah-buahan di daerah yang dekat dengan Bayah. Jelas, ia menginginkan kesehatan para romusha.
Kita tahu, romusha adalah sebuah bentuk dukungan kepada Jepang agar Indonesia kelak dihadiahi dengan kemerdekaan. Bung Karno adalah orang yang punya dosa besar dalam keadaan ini. Bung Karno yang menyetujui bentuk kerja itu, bahkan ia sendiri yang merayu masa untuk menjadi romusha.
Namun, katanya mengutuki diri “Dalam setiap perang ada korban. Tugas dari seorang Panglima adalah untuk memenangkan perang, sekalipun akan mengalami kekalahan dalam beberapa pertempuran di jalan. Andaikata saya terpaksa mengorbankan ribuan jiwa demi menyelamatkan jutaan orang, saya akan lakukan. Kita berada dalam suatu perjuangan untuk hidup….” Ia bertujuan baik. Tak hanya itu, ia berani.
Suatu ketika Bung Karno dan Bung Hatta datang ke Bayah pada akhir 1944. Bung Karno berpidato, bersama Jepang kita akan mengalahkan sekutu dan kemudian mencapai kemerdekaan. Bung Karno meminta agar romusha berjuang meningkatkan produksi batu bara.
Sesi pertanyaan dibuka. Beberapa penanya angkat bicara, namun mereka hanya mendapat cibiran dari moderator. Akhirnya ia bertanya; apakah tidak lebih tepat jika kemerdekaan Indonesialah yang seharusnya lebih menjamin kemerdekaan terakhir? Ia menginginkan jika Indonesia merdeka sepenuhnya. Bung Karno jengkel. Konon, Bung Karno tidak pernah didebat ketika berpidato di seluruh Jawa.
Awal Juni 1945 ia pergi ke Jakarta untuk untuk membicarakan kemerdekaan, ia datang tetap dengan nama samaran. Pertemuan itu dilakukan untuk mempersatukan para pemuda Jawa. Namun pertemuan itu tidak berlangsung karena tentara Jepang membubarkan.
Ia kembali ke Bayah. Tak lama, ia berpindah tugas di kantor pusat dan bertugas mencatat data tentang romusha. Jepang berencana akan mengurangi jatah ransum untuk romusha, dialah orang yang menentang keras rencana itu. Ia berorasi di muka umum agar romusha tidak dipotong jatah ransumnya. Dampaknya luar biasa, kerusuhan terjadi, romusha mogok dan banyak melarikan diri. Sejak itu, ia diburu-buru Kamptei Jepang(polisi militer).
Saya rasa tidak benar jika ia tidak bisa menggalang masa, ia punya cara sendiri untuk menyelami rakyat bangsanya.
Hingga Indonesia memproklamasikan diri, ia adalah orang yang berperan penting di balik semua itu.
[..]
Ia dalam gelisah. Setiap kali gesekan sepatu terdengar, ia sembunyikan kitabnya itu di tempat yang tidak menarik perhatian. Sesaat kemudian, seorang polisi Jepang memporak-porandakan seisi rumah. Ia memang pintar dan berpengalaman; berpengalaman menjadi bulan-bulanan. Ia menghembuskan nafasnya dengan lepas mengenang kepergian polisi itu.
Saya bisa merasakan betapa sulitnya hidup ketika uang telah menipis. Apalagi dalam beberapa bulan tidak bekerja, sedang perut tak pernah kenal kompromi. Itulah yang ia rasakan, tercekik dalam hidup yang pelik. Ia lamar pekerjaan di Tambang Arang Bayah pada pertengahan 1943. Ia diterima bukan sebagai romusha, melainkan seorang juru tulis dengan nama samaran Ilyas Hussein. Madilog ikut berlindung dengannya.
Namun saya rasa ia tidak hanya mencari nafkah dan berlindung dari kejaran polisi. Kita tahu, Banten adalah pusat berkumpulnya romusha dari berbagai daerah di Jawa. Ada tindakan eksploitasi manusia yang mengerikan di dalamnya. Ia menelisik, menusuk dalam kehidupan kaum proletar itu. Akhirnya ia bisa saksikan, ketika manusia menjadi seperti tulang-belulang yang rapuh.
Kerap kali kakinya ia langkahkan ke tempat yang menyeramkan, masuk ke pelosok menyaksikan kehidupan yang sangsi. Wabah mengganas di tempat yang ia kunjungi, segala penyakit menjangkit hebat. Tentara Jepang takut mengunjungi daerah kecil itu, mereka lebih takut dengan penyakit ketimbang panasnya api senapan. Akhirnya ia tahu, kelaparan adalah penyebab utama kematian para romusha di Pulo Manuk—nama tempat itu.
“Kita dapat mempraktekkan rasa tanggungjawab terhadap golongan bangsa Indonesia yang menjadi korban militerisme Jepang.” Ucapnya suatu ketika. Ia masuki lorong-lorong para romusha, memberikan nasihat akan pentingnya kesehatan. Ketika ia ditugaskan untuk mendata pekerja, ia menemukan bahwa dalam setiap bulan 300-400 mati kelaparan. Ia dikenal sebagai kerani yang baik hati.
Saya bayangkan dengan hati yang miris. Pekerja hanya diberi beras 250 perhari dan 40 sen yang hanya bisa untuk membeli satu buah pisang. Tentu kelaparan tak bisa dielakkan lagi, menjadi semakin ganas menggerogoti jiwa-jiwa yang terampas. Romusha menjadi hamba negeri-negeri asing yang datang sebagai dewa maut. Semakin jelas, rakyat menjadi budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain.
Ia tidak diam, ia merasakan dan melaksanakan. Para pemuda ia himpun untuk mendirikan dapur umum yang menyediakan makanan untuk seribu romusha. Mereka bangun rumah sakit di sekitar pinggiran Bayah, juga membuka kebun sayur dan buah-buahan di daerah yang dekat dengan Bayah. Jelas, ia menginginkan kesehatan para romusha.
Kita tahu, romusha adalah sebuah bentuk dukungan kepada Jepang agar Indonesia kelak dihadiahi dengan kemerdekaan. Bung Karno adalah orang yang punya dosa besar dalam keadaan ini. Bung Karno yang menyetujui bentuk kerja itu, bahkan ia sendiri yang merayu masa untuk menjadi romusha.
Namun, katanya mengutuki diri “Dalam setiap perang ada korban. Tugas dari seorang Panglima adalah untuk memenangkan perang, sekalipun akan mengalami kekalahan dalam beberapa pertempuran di jalan. Andaikata saya terpaksa mengorbankan ribuan jiwa demi menyelamatkan jutaan orang, saya akan lakukan. Kita berada dalam suatu perjuangan untuk hidup….” Ia bertujuan baik. Tak hanya itu, ia berani.
Suatu ketika Bung Karno dan Bung Hatta datang ke Bayah pada akhir 1944. Bung Karno berpidato, bersama Jepang kita akan mengalahkan sekutu dan kemudian mencapai kemerdekaan. Bung Karno meminta agar romusha berjuang meningkatkan produksi batu bara.
Sesi pertanyaan dibuka. Beberapa penanya angkat bicara, namun mereka hanya mendapat cibiran dari moderator. Akhirnya ia bertanya; apakah tidak lebih tepat jika kemerdekaan Indonesialah yang seharusnya lebih menjamin kemerdekaan terakhir? Ia menginginkan jika Indonesia merdeka sepenuhnya. Bung Karno jengkel. Konon, Bung Karno tidak pernah didebat ketika berpidato di seluruh Jawa.
Awal Juni 1945 ia pergi ke Jakarta untuk untuk membicarakan kemerdekaan, ia datang tetap dengan nama samaran. Pertemuan itu dilakukan untuk mempersatukan para pemuda Jawa. Namun pertemuan itu tidak berlangsung karena tentara Jepang membubarkan.
Ia kembali ke Bayah. Tak lama, ia berpindah tugas di kantor pusat dan bertugas mencatat data tentang romusha. Jepang berencana akan mengurangi jatah ransum untuk romusha, dialah orang yang menentang keras rencana itu. Ia berorasi di muka umum agar romusha tidak dipotong jatah ransumnya. Dampaknya luar biasa, kerusuhan terjadi, romusha mogok dan banyak melarikan diri. Sejak itu, ia diburu-buru Kamptei Jepang(polisi militer).
Saya rasa tidak benar jika ia tidak bisa menggalang masa, ia punya cara sendiri untuk menyelami rakyat bangsanya.
Hingga Indonesia memproklamasikan diri, ia adalah orang yang berperan penting di balik semua itu.
[..]
Label:
CORETAN
.jpg)

