kan kutempuh perjalanan panjang ini
perjalanan yang melelahkan
dahaga tak putus-putus..
kan kucatatat perjalanan ini
perjalanan yang melelahkan
kesejukan tak jua datang..
kan kusimpan cerita perjalanan ini
perjalanan yang melelahkan
lembar hidup pasti berganti...
hidup tidak sekadar menuai madu
penuh racun pun bukan berarti mati
aku ingin lari dari segala benci
[..]
Sabtu, 11 Mei 2013
perjalanan ini
Rabu, 15 Februari 2012
Percintaan di Atas Kembang
Pembisik
Kau kamboja kuburan, tumbuh di antara mayat-mayat bergeletakan.
Tubuhmu dijalari anggrek buruk berbau busuk.
Akar-akarnya terus melilit lekat hingga kau sesak menghirup hembus udara senja.
Harusnya kau tak sebut lagi sebagai bunga,
ia hanya benalu bermuka manis serupa mawar indah bertangkai duri.
Tiap malam ia merayap mencumbui pohon randu.
Mereka akan bersenggema dibelai berai kapas.
Sementara kau begitu lelap ditikam gelap.
Esok hari seorang putri mungkin tidur di kakimu.
Tergolek lemah, pucat menyelimuti wajah.
Nyawanya meregang terbang entah ke mana.
Malaikat mengantarkannya memang untukmu.
Jangan kau sia-siakan kebaikan itu, Kamboja!
Biarkan Anggrek melihat akarmu memeluk lembut jemari Putri.
Lumatlah di atas kembangmu yang berserakan merajai tanah,
seperti Anggrek menjamah Randu di bawah naungan kapas.
Anggrek
Akulah benalu manis di tubuhmu,
melilit lembut menyerap sarimu
namun kau tak pernah mengerti mengapa aku bercumbu dengannya,
randu alas di tepian sana.
Kambojaku, bukan aku tak cinta
Tanah telah menjadi debu-debu.
Badan kita menyatu, jiwa kita terpisah jauh
Aku cuma gerimis sepi tanpa derum guruh
Putri cantik mungkin esok datang berlutut di kakimu
Aku tak cemburu, apa artinya bermain api tanpa kayu?
Andai saja mayat-mayat itu bisa bicara, juga nisan penanda empunya,
kita akan mengerti, betapa hidup hanya sementara.
Aku ingin ajarkanmu tentang kenikmatan yang ganjil ini
Kambojaku, marilah, senja sudah jauh menelan cahaya.
Kamboja
Aku tak memiliki gambaran tentang cinta, kasih.
Hari berganti, bunga berguguran: lambai jemarimu
tak membuat aku bergetar.
Salahkah ini?
Bekasi, 2011
[..]
Senin, 19 Desember 2011
Buah Bibir

Oleh Irman Syah, penyair.
1
Tek Rasidah begitu bahagia.
Begitu pula Pak Malin Sati.
Anak mereka satu-satunya,
Matrilina, segera pulang dari kota.
Telah lulus ujian sarjana,
tinggal menunggu diwisuda.
Senang hati tak berkira,
hilang penat nan diderita,
gadis cantik nan elok rupa,
pameran mata nan muda-muda.
Matrilina bakal di depan mata.
Meski anak satu-satunya,
putri tunggal badan seorang,
dibuai disayang dan dimanja,
tetap tak membuatnya teranja-anja.
Tak ada waktu yang terbuang,
apalagi menyiram bunga.
Sikap serta tingkah lakunya,
cermin kaca anak sebaya,
buah bibir yang tua-tua.
Rasidah beranjak ke beranda,
Malin Sati terduduk di kursinya.
Dibakarnya rokok daun nipah,
asap jemba-menjemba mata.
Kopi separo direguknya,
pembasah kelat kerongkongan.
Dipandangnya lagi surat di meja,
ingatan melayang kepada Sapar.
Kemenakan kandung badan diri,
yang tak berjodoh dengan anaknya.
“Jangan dipikir masa yang lama
Matrilina mungkin tlah melupkannya,”
Rasidah menawar hati suaminya.
Matanya tak lepas memandang bunga
meski ujungnya ke Malin Sati,
mengikuti gerak dan air muka.
Tidak mungkin!
Matrilina pasti masih mengingatnya,
rasa bersalah menggangu jiwa.
Barulah kini tahu Malin Sati,
makna kerasnya hati Matrilina,
menolak perjodohan dengan Sapar
guru Madrasah di Pekan Kamis.
Dengan uang bulanan yang sering kurang,
tetap kuliah dan menamatkannya.
Malin Sati tak mampu meneruskan pikirannya.
Di hati kecilnya waktu itu,
cuma membahagiakan hati anaknya,
sekalian tercapai cita-citanya.
Apalagi hidup di kota,
sebuah daerah tak teraba.
Menguliahkan anak dengan tani,
jangan-jangan putus di tengah jalan,
tapi yang terjadi waktu itu,
Matrilina menuding tanggung-jawabnya,
tamparan mendarat di pipi anaknya.
“Pak, mawar yang disukai Matrilina
kini mengembangkan kelopaknya,”
Rasidah berharap Malin Sati bangkit,
tuk beranjak ikut menikmatinya.
Keduanya kini sama di beranda,
Sama-sama memperhatikan bunga,
yang selalu dirawat Matrilina,
pabila pulang sesekali.
Mereka berdua juga tak lupa,
memperbaiki taman dan pagarnya.
Bunga-bunga pun seakan tahu,
dia menyambut kedatangan Matrilina.
“Sudahlah, semua akan segera selesai,
persoalan lama pastikan hilang.
Apalagi cita-citanya telah tercapai,
ia kan sudah sarjana pula,”
kembali Rasidah menenangkan hati suaminya
tak ingin Malin Sati tekanan batin.
Sore mulai merengkuh senja.
Burung-burung pipit bercericit di pohon pinang.
Angin berhembus dari Tilatang,
kelelawar yang bergerombol
terbang pulang ke Bukit Kawin,
oleng-kemoleng dari bukit Kamang,
kepaknya lelah menyongsong arah,
dan anak-anak menyorakinya
“he wah he wah he wah he wah!”
kemudian senja jadi redup.
Senyap oleh panggilan nyaring
ibu-ibu yang anaknya belum pulang.
Hanya derak dan debum dari jendela.
Pintu tertutup menandai malam.
&&&
Kedai kopi Mak Raga selalu ribut,
Begitu setiap malam,
malah hingga dini hari.
Riuh rendah dari kejauhan.
Batu domimo berdentang-dentang.
Gelak dan tawa anak muda,
seakan menjadi musik warga menjelang pagi.
Mereka bertaruh, judi kecil-kecilan
Ada juga yang main kowa dengan kertas ceki,
atau song dengan kertas remi.
Cerita pun melayang sana-sini.
Entah siapa yang memulai
cerita sampai ke Matrilina.
Gadis cantik tunggal-berbeleng,
anak tek Rasidah yang bersawah di Napa,
kini tlah pulang dari kota.
Kabarnya sudah jadi sarjana.
Hempasan kartu kadang berhenti
berganti dengan gelak-tawa.
Pertengkaran kecil pun kadang muncul,
terkadang hanya persoalan mata,
atau uang taruhan yang kurang di meja.
“Orang seperti kita tidak ada artinya bagi Matrilina,
suka begadang, judi, dan mabuk,
meski pun kita punya uang banyak..”
Acin Nasir berpendapat
tentu saja dengan mengepulkan asap rokoknya.
“Apalagi kita jarang ke Jumat,”
tambah Basir.
“Belum tentu,” sanggah Cinok Nofri,
“Matrilina bukan tipe kampungan,
apalagi ke-alim-aliman. Ia itu Perempuan.
Tambahan lagi, budaya kota telah menjamahnya,”
sambung Cinok Nofri dengan butir pikirannya.
“Mobil opletmu takkan berarti di matanya!”
tuding Basir meninggi.
“Sudah-sudah.. kita belum cocok menjadi apak paja..”
Acin tertawa, kemudian mengocok batu di meja.
Bunyi terdengar menggaga-gaga,
berderak-derak di papan triplek
sebuah alas yang disengaja
dan tawa baru terhenti ketika mereka
memungut batu tujuh perorang,
ditegakkan bagai berkaca.
Parewa belum lagi mengambil batunya,
Kawan-kawannya jadi terpanah.
Dalam pikiran Parewa bermain gambaran,
anak-anak muda seperti mereka
memang belum cocok menjadi seorang Bapak
bagi anak-anak yang bakal lahir
dari rahim Matrilina.
Yah, masih sering suka berhura-hura.
Permainan terus berlangsung.
Jarak meja dengan meja,
Dengan permainan yang berbeda,
begitu pula taruhannya,
takkan sempat bertukar kata
kecuali ada cerita yang sama
maka kata melintas dan menyeberang.
Biasanya dengan cerita yang mengena
seperti halnya soal wanita,
dan pagi pun hadir tanpa diduga.
Kabar mengalir begitu saja,
kehidupan terdampar di lipatannya.
Begitulah Matrilina.
Tak banyak yang berubah dari dirinya,
masih suka menyiram bunga,
pagi sepulang dari musala.
Matrilina, cerita baru sentuhan lama,
bahan bahasa bagi yang tua
tuk berpetuah pada anaknya.
Contoh teladan elok budinya,
buah bibir siapa saja
Rasidah begitu bahagia, Malin Sati begitu pula,
menikmati bahagia dari istrinya.
Dalam kepala mereka berdua,
Selalu saja berdengung tanya:
Siapakah bakal Junjungannya?
Acin Nasir, Cinok Nofri, Basir dan Parewa,
beserta kawan-kawan sejawatnya
kini tak lagi duduk di kedai Mak Raga
kecuali Malam Minggu saja.
Kalau tidak di Karang Taruna, mungkin
di lapangan olahraga
mereka mengurus dan merumuskannya.
Setiap Kamis malam sudah pasti ke mushalla
mengikuti pengajian Wirid Remaja.
Yang membuat mereka terkesima
selalu saja tutup kepala Matrilina,
kalau tidak merah menyala tentulah berwarna
biru muda: indah bagai rangkaian bunga
buah bibir pautan suka.
Matrilina tetap biasa-biasa saja
tak membayang sombong dan bangga.
&&&
Tak ada angin tak ada badai,
semua berita dikungkung duka.
Warga tersedak, bagai makan terlambat air
dan batuk datang tiba-tiba.
Nasi tersesat naik ke hidung. Meninggal?
Matrilina meninggal dunia?
Tentu saja banyak yang meneteskan air mata,
membekukan duka para pemuda.
Bedug diguguh tiga-tiga,
orang melayat aneka rupa, rumah Rasidah
jadi sasarannya.
Dalam ramainya suasana, masih terbayang Matrilina.
Warga seakan tidak percaya.
Padahal di depan mata mereka,
tepatnya di ruang tengah rumah,
bertutupkan kain panjang
telah membujur kaku mayat Matrilina.
Tibalah saat memandikan.
Air dibawa berember-ember,
tandu dan wadah telah siap sedia.
Tentulah kuburan kan dijelangnya.
Ibu-ibu yang terpilih pada sibuk bolak-balik,
kadang masuk kadang keluar kamar.
Tempat mayatnya dipindahkan,
tempat di mana mayat dimandikan.
Tek Rasidah ada di antara mereka.
Dengan makna kehilangan di mukanya,
ia tampak sabar dan tabah.
Lain halnya Pak Malin Sati,
tak kuasa mengangkat kepalanya.
Sementara Sapar kemenakannya,
berusaha untuk menenangkan,
tapi kecamuk dalam batinnya
tetap saja tak mampu mereda.
Di ujung rumah dekat arah ke pintu masuk,
tepatnya dekat jendela, para pemuda terlihat pula.
Mereka tak banyak berkata-kata.
Acin Nasir, Cinok Nofri, Basir dan Parewa
tampaknya begitu berduka.
Mereka cuma bisa berdiri,
tempat duduk sudah tak ada.
Rumah duka disesaki tua dan muda.
Lain di luar lain di dalam,
tempat di mana mayat dimandikan
sedang terjadi upacara.
Seorang perempuan agak tua bertindak jadi Pengetua.
Rasidah berdiri di arah kepala.
Mereka memulai dengan doa,
bekerja tak bersuara.
Kalau ada yang mereka perlukan,
mereka bahasakan dengan berbisik.
Ada yang menyiram muka,
kemudian ke seluruh tubuh.
Semua sibuk dengan khusyuknya.
Ada yang memindahkan ember yang kosong
menggantinya dengan ember yang penuh,
ada pula yang meluruskan selang air
agar leluasa mengalir ke bawah kandang
dan bermuara ke kolam ikan.
Rasidah tampak begitu tabah
Membarutkan kain basah ke muka mayat anaknya.
Tak seorang pun yang menyangka
atau pun mengira-ngira.
Kejadian datang begitu tiba-tiba.
Rasidah terpekik dan menjerit:
Tattoo bergambar kupu-kupu melekat hinggap
di tubuh mayat anaknya.
Tepat bertengger di bawah pusar sang mayat.
Untung saja perempuan lain sigap menyambut,
Kalau tidak pastilah Rasidah akan tersungkur
di bawah mayat anak sendiri.
Ruang tengah jadi gemuruh.
Jeritan lengking dari dalam kamar,
tempat mayat dimandikan, membuat tamu
sontak terkejut dan berdiri.
Ada pula yang secara reflek berlari ke arah suara.
Ada pula seorang Lelaki menyeruak masuk.
“Sabar, sabar…tak apa-apa..,”
cegat perempuan Pengetua di mulut pintu.
“Kenapa? Ada apa?”
tanya Laki-laki itu beruntun,
yang tak lain adalah saudara laki-laki dari Rasidah
sambil menyambut tubuh adiknya yang pingsan,
dari tiga orang perempuan yang membopongnya.
“Dia belum siap menerima…”
jawab perempuan pengetua dengan bahasa bijaksana
sembari menenangkan wajah yang penuh tanda tanya.
Rasidah digotong ke kamar ujung,
Malin Sati dan Sapar pun ikut pula.
Setelah peristiwa itu, bahkan di bulan-bulan sesudahnya,
tak ada seorang pun ada dari masyarakat yang tahu
akan peristiwa yang sesungguhnya,
selain Rasidah dan perempuan yang memandikannya.
Matrilina tetaplah menjadi buah bibir sepanjang zaman,
tentang keelokan dan suri tauladannya…
Jakarta, Desember 2006
[..]
Rabu, 26 Oktober 2011
Kenangan

Lelaki tua itu duduk di kursi panjang kayu jati
Bola matanya terbang ke langit
Kerut wajah tak bisa sembunyi, ia tak gagah lagi
Ia merasa waktu begitu cepat menenggelamkan kesenangan
Besok pagi anak-anaknya sekolah
Uang saku mesti ada, paling tidak buat ongkos saja
Tapi uang tak ada, rokok pun ia tak punya
Barang kali ia siap melihat istrinya menangis tanpa air mata
Di dalam ketiga anaknya tidur pulas
Berderet di amben serupa petek
Ia tahu, semangat mereka begitu menggebu
Ah, begitu berat beban hidup. Keluhnya.
Lelaki tua memejamkan mata
Mengenang, menimbang, menyesal…
“Dulu aku tak sesusah ini. Bapak lurah. Hidup cukup.
Ah, anakku. Cepat tumbuh, nak.
Hidup itu keberanian.
Hidup itu kepedihan.
Ya, nak. Aku baru tahu itu.
Dan kau lebih tahu daripada aku.”
[..]
Selasa, 18 Oktober 2011
Hilang

Aku beradu dalam kebencianmu
Luruh dan bisu segala daya
Adalah kamu meremang menjadi petang
Terang di sana tak hendak datang
Hujan merintik menada sendu
Tanah-tanah berbau mengepul malu
Kamu berlari ditelan basah, ditelanjangi dingin angin
Aku tenggelam membawa peluh..
Hei, manusia tidak menghakimi manusia!
Karena Tuhan punya semesta, karena malaikat dapat kuasa..
Teruslah tinggi dalam ketiadaan, dengannya kamu hilang..
Dan aku tak sudi jadi hamba sesama manusia.....
Sekalipun itu, sebuah cinta..
[..]
Selasa, 21 Desember 2010
Ada
Aku hanya mengenalmu dari pikiranku
Semua, semua kuketahui kau
Dari hasil olah otakku..
Aku akan bermimpi, terus bermimpi
Jika aku tak berpikir tentangmu, maka kau lenyap
Ya, kau akan remuk dalam peredaranku
Kau ada karena aku berpikir tentangmu..
Lalu kau berbisik padaku;
“Bukan pikiranmu yang menentukan aku”.
Kau pun mengusap tanganku dan berkata;
“Aku dan kau itu nyata, bukan mimpi”..
[..]
Senin, 20 Desember 2010
Angan
kubangunkan kau dalam anganku
kutumpuk serpihan-serpihan wajahmu
kau tumbuh dalam imajinasiku..
tapi itu masa lalu
kemudian kau muncul menjadi nyata
kau menghilang lagi
aku mengenalmu di antara mimpi dan kenyataan..
ketika serpihan bayang terkumpul menjadi kenyataan
engkau runtuh kembali tanpa bentuk
kemudian kubangunkan lagi kau dalam anganku
ah, kali ini aku tak berhasil..
kau remuk.... [..]
Sabtu, 27 November 2010
Cerita Lalu
Aku mengerti kawan, kau dan aku tak terpisahkan
Tapi bukan hati, namun nasib yang mengatakan
Ah, tapi aku tak suka kita menyerah pada nasib
Kau dan aku dulu, bersama mengangkangi nasib kita yang memang malang..
Kita pernah duduk untuk bicara serius
Dengan mata tajam, dengan dahi berkerut
Kita keluhkan cerita hidup yang seirama
Ya, tentang nestapa ataupun cinta
Kadang kita juga mentertawakan kesusahan
Kita tanggalkan kemiskinan sejenak yang melekat
Kita sandarkan kepala pada seonggok bantal
Kemudian kita bercericau tentang mimpi-mimpi..
Tapi sekarang kita jauh, kawan
Mungkin kau sekarang sibuk mencari pekerjaan
Bukankah kau sering ceritakan itu padaku?
Tentang kehidupan, tentang keserakahan, dan keluh kepayahan..
[..]
Selasa, 12 Oktober 2010
Untukmu Orangtua
Malam ini, nampaknya bulan bersinar enggan
Aku, masih membisu dalam gelisah
Tapi bagaimana? Dengan jiwaku yang terhempas
Menyusuri lorong2 gelap..
Terkadang aku ragu
Tapi, ah, lagi kau ingatkanku
Dalam keadaan galau, kau membayang di hadapan
Kemudian kau meremang..
Benar, jika aku masih diam
Tapi batin ini masih bergemuruh hebat
Melihat dan merasa hidup dalam rimba.
Keras!! Ya, memang tak ada kasihan,,
Tapi sekali lagi, aku masih mengingatmu
Harapanmu masih kugenggam erat
Rindumu masih kusimpan rapih
Diantara hati dan jantung ini,,,,
[..]
Minggu, 04 Juli 2010
Daun
Lambaimu bagai tarian meliuk indah,
menggetarkan dada
daun,
Menyentuhmu adalah kasih
menyirammu adalah kasih,, [..]
Hadirmu
Saat aku terjatuh dalam lubang yang menjerat membekap
Kau hadir dalam gelap malamku
Kau selimuti dalam dingin tidurku
Indah,begitu indah kurasakan
hadirmu sempurnakan aku
Meski sendiri kian menusuk hati
Namun kau selalu lingkupi,
disetiap batas2 sunyi.. [..]
Aku si AIR
Aku berjalan menerobos celah2 waktu
Aku mencari lubang kecil dan menari diatas tanah gersang
Sesekali aku terjebak dalam aliran yang kotor
Tak bermanfaat
Semuanya terkubur dalam bingkai sampah
Aku ingin hilang diteguk mereka
Dipadang gersang aku direbut
Dipadang gersang aku adalah manfaat.. [..]
Gelisahku
Hatiku berteriak lirih mencari arti
Aku kembali diam
Dengan perlahan kuatur degub jantung yang masih saja memburu
Aku ingin berontak,dalam hayal kusimpan sedikit gelisah..
Seperti yang kau katakan"kau harus bangkit"
Kata2 itu masih terngiang dalam pikiranku
Membawaku dalam dunia yang berbeda..
Aku ditengah alunan lagu2 yang bisu
diiringi dengan irama terindah
kini aku menari diatas badai
Dan kutembus ombak berliku penuh nafsu.. [..]
SMS
Kuambil sebuah buku itu
Sejenak diriku terhempas dalam alunan kata dan rumus..
Getar hanphone menggugah ketegangan itu
Beberapa pesan masuk bersamaan
dengan pertanyaan yang hampir sama seirama..
seketika kepalaku terasa berat
Berbaur dalam tema tak teratur
Hati kian gundah,pikiran kian menyiksa..
Dalam hatiku membatin"siapa mereka,apa maunya?"
Argghh,menyebalkan!gumamku tak terdengar orang
dan kini kata2 itu melekat,mengikat,
Menyayat disela otakku.. [..]
Kau buatku membisu
Terbawa aku dalam alunan nada sendu
Dalam hati terkubur sebuah harapan
yang kian memudar.. [..]
Dalam malam tersimpan seribu makna
Keringat dinginku mengalir deras
Ada sediit getaran didada jiwa..
Mengingat hal itu bagai air tak punyai celah
Masih saja dalam genangan tak berujung
jadi hilang akan warna..
Dalam diam kusimpan seribu gelisah
Dalam malam kupendam berjuta makna
ya!aku masih saja seperti air..
Mencoba mencelah,menerjang,memberontak!! [..]
Lemah
Aku tersungkur oleh kerasnya badai yang menghamburkan
air-air yang menyatu..
Aku lemah..
Dan aku bagaikan ilalang ditengah
hamparan rumput yang kering.. [..]









