Sabtu, 05 Februari 2011

Dewandaru

Jika ada orang menanam pohon yang batangnya lurus, dedaunannya lebat dan lebar, apalagi sampai berbuah dan berbunga, maka hal itu adalah kebaikan semata. Bukan hanya itu, mungkin ia akan dipuji khalayak sebagai orang yang cinta pada lingkungan, dan kreatif pula mengolah pekarangannya dengan hal yang menguntungkan. Berbeda dengan ayahku, ia justru gemar menanam pohon yang aneh-aneh—pohon liar. Apa tujuannya? Tidak ada yang tahu. Yang jelas, pohon yang ia bawa selalu tidak lazim. Banyak orang yang merasa simpati padanya, mereka mengira ayah depresi lantaran menjadi orang miskin baru-baru ini.

Kadang-kadang ia mendatangkan puluhan pohon liar dari hutan yang dibawa dengan mobil sewaan. Aku pun ikut membantu menurunkan pohon-pohon aneh itu. “Hati-hati, jangan sampai rusak.” Katanya mengingatkan. Macam-macam bentuknya, ada yang besar tapi kerdil (sengaja dipotong atasnya namun cara memotongnya miring, sehingga ujungnya nampak runcing), ada yang keropos sebagian batangnya (tapi akar serabutnya sangat lebat), ada pula yang batangnya berkelok seperti ular (hampir semua pohon itu batangnya tidak lurus).

Yang membuat kesal, ayah juga membawa pohon yang durinya runcing-runcing sehingga seringkali aku terluka kena durinya. Kemudian ia dengan tekun memotongi duri-duri itu, itu pun dilakukannya dengan hati-hati pula. Jika batangnya tergores dan mengeluarkan getah, ia segera mengoleskan cairan yang telah disediakan dalam botol kecil. Ia lindungi betul tanah yang menempel pada akar-akarnya, terlebih tanah yang menempel pada serabut.

Setelah semuanya dibereskan, ia segera menanam pohon-pohonnya pada ember-ember plastik pecah yang telah ia jahit dengan kawat. Setelah semuanya telah ditanam dan disirami, barulah ia berdiri berkacak-pinggang seraya menikmati hasil buruannya.
Orang pun lalu-lalang lewat di rumah kami sambil terheran-heran melihat pemandangan yang aneh.

II
Dalam satu bulan, halaman rumah kami telah menjadi hutan buatan tanpa dedaunan hijau. Tentu, orang-orang sekitar semakin heran dengan kegiatan ayah belakangan ini. Tapi tak ada yang berani menanyakan perihal itu kepada ayah, sebab walaupun sudah jatuh miskin ayah masih mempunyai wibawa di kampung kami. Maklumlah, ia anak mantan seorang lurah pertama di kampung kami sehingga dalam kehidupan sosial pun ada jarak yang membedakan dengan orang-orang kebanyakan.

Hampir setiap hari kegiatan ayah adalah berburu pohon-pohon liar. Pagi-pagi benar ibu telah menyiapkan segala perlengkapan buru ayah. Ada cangkul, kapak, celurit, sampai pahatan sekalipun—mirip peralatan tukang saja. Ia mengenakan kaos oblong yang telah usang dan celana pendek kumal. Dengan topi caping dan karung beras di pundaknya, ia berjalan dari rumah menuju jalan raya untuk menunggu bus. Tentu aku malu dengan tingkah ayah selama ini, padahal sebelumnya ayah selalu rapih jika mau pergi kemana-mana. Pernah aku menanyakan kepada ibu, tapi ia hanya menjawab “percayalah pada ayahmu”.

Ibu memang sangat tahu tabiat ayah selama ini. Menurutnya, ayah adalah seorang yang pekerja keras, namun ia tak mau sedikit pun diperintah oleh orang. Dengan kata lain, ia selalu ingin berdiri di atas kaki sendiri tanpa bantuan orang lain. Ia lebih suka hidup sebagai wiraswasta yang punya usaha sendiri, bahkan bisa mempekerjakan orang di usahanya. Perjalanan ayah sudah menjadi bukti, bahwa selama ini ia telah beberapa kali mempunyai usaha sendiri walau pun jatuh-bangun.

Akhirnya ibu menceritakan perjalanannya bersama ayah. Katanya, ketika aku dalam kandungan, ayah baru saja bangkrut dari usaha pertaniannya. Ketika itu pula Bapak ayah meninggal dunia, sehingga mau tak mau ia harus bekerja keras. Ayah tak mengharapkan sedikitpun warisan dari orangtuanya, sebab Bapaknya sendiri juga sudah mempunyai pengganti mendiang Ibu ayah. Ayah merelakan semua peninggalan Bapaknya untuk Ibu dan saudara-saudara tirinya.

Ternyata hal aneh yang dilakukan ayah selama ini bukanlah hal baru bagi ibu. Dulu ayah pernah mempunyai usaha pembibitan mangga yang terbesar di kota kami. Hampir seluruh perkebunan mangga di kota kami berasal dari ayah. Saat itu jarang sekali ditemui tempat pembibitan mangga, walau pun sebagian kecil di pekarangan warga sudah ada pohon mangga yang telah tua usiannya. Pesanan pun membanjiri usaha ayah, bahkan sampai pembeli rela menitipkan uang terlebih dahulu.

Namun keberhasilan tidak didapat semudah membalikkan telapak tangan, ia bekerja keras. Awalnya, setiap malam, pada saat musim mangga, ayah rela berburu mangga yang jatuh dari pohon untuk kemudian diambil bijinya. Bahkan, ia rela membeli banyak mangga dan dibagikan kepada tetangga-tetangga (setelah itu biji mangga dikembalikan kepada ayah untuk disemai).

III
Pohon-pohon itu bak robot yang dikendalikan semaunya oleh pemiliknya. Kini “anak rohani”nya itu sudah seperti pelari obor saja, ia estafet . Setiap kali ada pohon baru didatangkan, berarti ada pula pohon yang harus tampil di atas pot. Dan bila sudah berada di pot, ia pun ditempatkan pada posisi yang tinggi—ditaruh di atas rak yang terbuat dari bambu, dan dijejer rapih. Kemudian dahan-dahan baru yang mulai tumbuh dililit dengan kawat elastis untuk diarahkan semau ayah.

“Ini adalah tanaman bersejarah, Nak.” Katanya suatu malam kepadaku ketika kami duduk bareng di beranda sambil melihat tanaman itu.

“Itu kan cuma tunggak saja, Yah.” kataku dengan penasaran.

“Bukan, Nak. Ini Bonsai. Bangsawan Jepang selalu mewariskan turun-temurun tanaman ini kepada anak-cucu mereka. Ini karya seni orang-orang tertentu, Nak.”

Akhirnya aku mengerti apa yang dilakukan ayah selama ini. Pertama kali aku dengar namanya tentu dari buku-buku yang sudah lama ayah baca. Memang di sampul buku itu terpampang gambar tumbuhan yang sangat indah. Tapi pikirku gambar itu adalah pohon besar yang sudah berumur ratusan tahun, atau setidaknya ada orang yang melukis kemudian dengan imajinasinya menempatkan pohon itu pada sebuah pot dangkal.

Ayah pun menyodorkan gambar-gambar Bonsai yang telah jadi kepadaku. Ternyata benar, pohon-pohon itu sengaja dikerdilkan dan dijadikan sebuah miniatur pemandangan yang sangat indah. Bahkan ada gambar dengan akar mencengkram sebuah batu karang. Justru keindahan sebuah Bonsai terlihat dari kesan alaminya yang menunjukan pohon itu seperti sebenarnya. Aku lebih terperangah lagi ketika melihat gambar Bonsai yang seluruh batangnya keropos, namun daunya sangat lebat dan kecil-kecil.

IV
Hari demi hari ayah menyibukkan diri di rumah. Aku pun mulai menyukai apa yang menjadi hoby ayah tersebut, aku menjadi semangat untuk membantunya serta belajar. Banyak pohon yang sudah setengah jadi berkat tangan dinginnya. Halaman rumah kami semakin sejuk, rumah kami sudah seperti surga dengan taman yang indah.

Ia mengenalkan satu-persatu jenis tanaman yang ada di rumah kami. Banyak sekali, hingga aku kualahan untuk menghafalnya. Aneh-aneh saja nama Bonsai-Bonsai itu, apalagi pohon liar yang diambil dari hutan. Ada Sisir, Serut, Kemuning, Wareng, dan agaknya masih banyak lagi. Sedangkan yang mudah dihafal adalah pohon-pohon yang memang bukan dari hutan. Misalnya; Beringin, Cemara Udang, Sancang, Kawista, Santigi….

Aku menjadi sedikit paham tentang seni Bonsai setelah ayah mengajarkan banyak hal. Lebih dari itu, ia menjelaskan bagaimana filosofi sebuah Bonsai. Akar-akarnya yang kompak adalah cerminan keteguhan hati manusia, Bonsai dikatakan baik jika akarnya pun baik, sekalipun batangnya sangat kecil. Dahannya yang tersusun rapih dan mengerucut adalah gambaran sebuah kerjasama manusia dalam mencapai kemakmuran, serta menekankan bahwa keberhasilan lahir karena kerja keras untuk menyusun dan mengatur segala sesuatu yang pelik.

Bonsai memiliki hukum yang mutlak. Yang aku tahu, ia harus mempunyai keseimbangan yang baik. Bagian bawah harus lebih besar, dan semakin ke atas harus semakin kecil. Tidak boleh ada dahan di atas yang lebih besar daripada yang di bawah. Semua berawal dari bawah, terutama pada akar. Kesempurnaan inilah yang ayah katakan kepadaku sebagai kesempurnaan yang absah. Bukan bayangan semu belaka. Sehingga bila suatu saat datang angin menerpa, ia akan tetap bertahan.
“Semua itu dibutuhkah kesabaran, Nak” bisiknya kepadaku.


V
Ayah sangat menyayangi semua tanamannya. Baginya, ia adalah mahluk yang bisa bicara. Ia punya rasa seperti manusia. Jika manusia butuh makan dan perawatan, maka tumbuhan juga butuh makan dan perawatan pula. Ia tak pernah sekali pun tidak menyirami tanamannya. Setiap hari ia habiskan waktu untuk berkomunikasi dengan “anak rohani”nya itu. Namun dari banyak tanamannya, ia mempunyai sebuah Bonsai istimewa yang sengaja ia tempatkan di tempat tersembunyi. Ia adalah Bonsai Dewandaru.

Pohon itu, katanya, adalah peninggalan turun temurun dari Nenek-Moyangnya. Banyak manfaat yang terkandung di dalamnya. Orang percaya bahwa tanaman itu memiliki daya magis yang kuat. Pohon tersebut berasal dari pulau Karimunjawa yang dibawa pertama kali oleh para Sunan. Namun ayah hanya mempercayai jika buah Dewandaru mempunyai banyak manfaat yang bisa menyembuhkan banyak penyakit.

“Ini, Nak. Tanaman ini. Kelak jika ayah sudah tak ada, kau harus merawatnya baik-baik.” Ayah mengatakan padaku seraya memegang pundakku. Seakan ada sebuah amanat yang harus aku emban.

Katanya pula, buah ajaib pohon itulah yang menyelamatkan ayah dari sakitnya. Dulu, ketika kecil ayah mengalami sakit yang sudah kronis. Sudah banyak dokter yang datang untuk menyembuhkan, tapi tak satupun yang bisa menyembuhkannya. “Tak ada obatnya” kata para dokter itu. Kemudia Bapak ayah terpaksa memanggil paranormal untuk menyembuhkan, barangkali itu gangguan gaib. Ah, tidak. Semua tidak ada yang bisa menyembuhkan.

Sementara itu kondisi ayah semakin memburuk, ia hanya tergeletak saja di pembaringan. Makan dan minum ia lewatkan, hanya melalui infus cairan masuk ke dalam tubuhnya. Ibu ayah meratapinya setiap hari, seakan tidak rela jika anaknya akan meninggalkan. Bahkan ayah sudah dibacakan ayat-ayat suci, seolah ia hampir meninggal dunia.

Dalam kekalutan itu, Bapak ayah bermimpi bertemu dengan Nenek-Moyangnya. Kemudian ia mendapat pesan dari mimpinya itu. “Kelak pohon ini akan bermanfaat”. Kalimat itu sama seperti yang diucapkan Kakek ayah kepada Bapaknya. Entah karena terlalu banyak pikiran, sehingga seperti berhalusinasi. Bapak ayah segera pergi melihat Dewandaru—pohon Nenek-Moyang turun-temurun. Dewandaru telah berbuah, buah itulah yang diambil oleh Bapak ayah. Kemudian dimasukkan paksa ke mulut ayah.

Buah Dewandaru telah menyelamatkan hidup ayah. Nenek-Moyangnya mempercayai bahwa pohon itu memiliki daya magis yang dasyat. Namun sebagai orang modern, ayah mencoba mencari informasi ilmiah tentang Dewandaru. Dan darisitulah ia mengetahui banyak sekali manfaat yang terkandung dalam pohon itu. Ia pun tahu, pohon tersebut telah langka ditemui.

Dewandaru menjadi Bonsai penuh manfaat di tangannya. Melebihi Bonsai bangsawan Jepang.
Bekasi, November 2010


1 komentar:

Yugo Prasetyo Hermanto mengatakan...

Penuh inspirasi apa lg utk pebonsai sprti saya,
Trims

Posting Komentar