Senin, 14 Februari 2011

Negeri Dongeng

"Sudah lama aku dengar dan baca, ada suatu negeri di mana semua orang adalah sama di depan hukum. Kata dongeng juga; negeri itu memashurkan, menjunjung dan memuliakan kebebasan, persamaan dan persaudaraan. Aku ingin melihat negeri dongengan itu dalam kenyataan.”

Barangkali kita akan rindu negeri dongeng itu; kita telah penat dengan pelbagai persoalan yang tak kunjung usai. Manusia terlampau serakah. Ternyata sikap tamak itu bukan hanya berkenaan dengan material, namun juga otak. Keyakinan menjadi lahan peperangan, yang minor harus dilenyapkan.

Akhirnya kita harus mengakui, manusia kuat selalu ingin menggolongkan mereka yang dianggap lemah. Jika yang lemah tidak berontak dan tidak melawan, maka ia segera ditundukkan. Namun Jika ia susah dilumpuhkan, berarti harus ditiadakan sekaligus. Padahal manusia tidak selamanya bisa digolongkan, ia bisa merupa dalam pelbagai dimensi.

Baru-baru ini negeri ini diguncang tragedi dasyat, serombongan orang atas nama Islam membantai secuil orang; Ahmadiyah. Mereka memporak-porandakan sebuah rumah milik anggota Ahmadiyah. Api berkobar hebat mengabarkan tentang adanya angkara-murka. Dan puncaknya, tiga manusia tutup ajalnya dengan mengenaskan; dalam keadaan tak bernyawa ia terus dihajar.

Kita tentu ingat ceritera-ceritera tentang Muhammad. Ia sebarkan Islam dengan benih-benih kedamaian. Ia dihujat, tapi ia teguh dan kukuh. Dalam perjalanannya, ia pernah mengatakan kepada orang-orang yang tak suka padanya, “Agamaku agamaku, agamamu agamamu.”. Ada semacam kesombongan di sana, tapi Muhammad justru semakin elegan.

Ketika Marx melontarkan kalimat yang sangat kesohor, “Agama adalah candu”, sebenarnya ia tengah menabuh genderang perang. Ia memanifestasikan pemberontakan batinnya, ia cemas pada suatu masyarakat. Kini kalimat itu seolah menjadi ruh yang hidup; agama telah mencandui orang-orang untuk melakukan kekerasan, dan agama selalu terseret dalam kenikmatan itu.

Tapi kita hidup pada sebuah negeri yang bhineka, berdiri atas pondasi aneka sifat dan latar-belakang. Kita berada pada bangunan kemanusiaan, bangunan yang benar-benar agung. kita tidak lagi berbicara atas nama agama, kemudian dengan bebas mengumpat dan membantai. Diam-diam umat muslim gusar; jaman jahiliah kembali bangkit.

Siapa pun tokohnya, apa pun motifnya, agama selalu menjunjung kemanusiaan. Tuhan ada di tengah agama. Dan agama hanya dimiliki manusia, bukan?

2 komentar:

dinna mengatakan...

sangat menyeramkan.. inikah tanda-tanda kehancuran dunia??

Respati Wasesa Affandi mengatakan...

Semua agama mengajarkan kemanusiaan...

Posting Komentar